Kolaborasi Polisi–Media Jadi Kunci Jaga Stabilitas di Era Informasi Cepat

Foto : SILATURAHMI Irjen Endar Priantoro (tengah) saat menerima buku dari Ajid Kurniawan di Mapolda Kaltim, Kamis (23/4).
“Berita tentang polisi itu atensinya tinggi. Dibanding berita lain dengan kualitas yang sama, yang paling banyak dilihat biasanya berita polisi. Kami menyadari itu,” ucapnya.
Meski demikian, ia melihat kondisi tersebut dari sisi positif. Tingginya perhatian publik dinilai sebagai indikator bahwa masyarakat masih peduli terhadap institusi kepolisian. “Artinya masyarakat masih memerhatikan polisi. Tinggal bagaimana kami mengarahkan agar perhatian itu tidak selalu ke hal-hal negatif,” tuturnya.
Endar juga menyinggung fenomena konten viral yang kini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital. Menurutnya, konten tidak lagi sekadar sarana informasi, tetapi telah menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi. “Konten sekarang sudah menjadi komoditas. Ada nilai ekonominya, sehingga banyak yang mengejar viral,” katanya.
Untuk merespons kondisi tersebut, Polda Kaltim memperkuat pendekatan preemtif dan edukatif kepada masyarakat. Salah satunya melalui kolaborasi dengan media, komunitas, dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan literasi digital.
Ia menyambut baik gagasan edukasi publik yang menyasar generasi muda, seperti program antihoaks dan pengembangan konten kreatif yang positif. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kualitas informasi di ruang digital.
“Anak-anak muda boleh membuat konten setiap hari, tetapi harus diarahkan ke hal-hal yang positif dan membangun. Itu yang perlu kita dorong bersama,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara kepolisian dan media, Endar berharap ruang digital dapat diisi dengan narasi yang lebih sehat dan konstruktif. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan aktif menjaga kualitas ruang publik.
