Rp269 Triliun dari Batu Bara, Berapa yang Kembali ke Kalimantan Timur?

0

Artinya, pemerintah perlu mulai menghitung:
• nilai sumber daya yang diambil,
• biaya kerusakan lingkungan,
• biaya rehabilitasi,
• kehilangan jasa ekosistem,
• dampak sosial,
• serta manfaat ekonomi yang benar-benar kembali kepada masyarakat lokal.

Barulah kita dapat mengatakan apakah eksploitasi sumber daya alam benar-benar membawa kesejahteraan bagi daerah penghasil.

Pertanyaan yang Perlu Dijawab Negara

Tulisan ini bukan untuk mempertanyakan hak pemerintah pusat atas devisa.

Bukan pula untuk mengurangi makna keberhasilan ekspor nasional.

Yang ingin dipertanyakan hanyalah satu hal sederhana.

Apakah mekanisme pembagian manfaat sumber daya alam yang berlaku saat ini sudah cukup adil bagi daerah yang menjadi penghasil utama?
Jika Kalimantan Timur menjadi penyumbang terbesar produksi batu bara nasional, sekaligus menanggung dampak lingkungan terbesar, maka sudah sewajarnya provinsi ini memperoleh perhatian yang lebih besar dalam kebijakan fiskal nasional.

Penutup

Capaian devisa ekspor batu bara sebesar Rp269 triliun adalah prestasi Indonesia.

Namun di balik angka yang mengesankan itu terdapat pertanyaan yang tidak boleh terus diabaikan.
Berapa sebenarnya manfaat ekonomi yang kembali ke Kalimantan Timur?

Pertanyaan ini bukan tentang meminta bagian yang lebih besar.
Pertanyaan ini adalah tentang keadilan.
Karena ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya devisa yang masuk ke kas negara, tetapi juga oleh sejauh mana kekayaan alam yang diambil dari suatu daerah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di atas tanah tempat kekayaan itu berasal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *