Diskusi Sumpah Pemuda DEMA-PTKIN Wilayah Kalimantan: Menguji Idealisme Pemuda di Hadapan Kekuasaan

Diskusi Sumpah Pemuda bertajuk “Refleksi Kepemudaan dalam Menakar Idealisme Pemuda: Antara Gagasan Perubahan dan Realitas Perjuangan” pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 19.00 WITA, bertempat di Smore Coffe.
Dalam konteks mahasiswa, hal ini menuntut gerakan kepemudaan untuk tidak berhenti pada kritik, tetapi juga membangun kapasitas intelektual, memperkuat basis pengetahuan, dan menyusun alternatif penyelesaian masalah.
Tiga Energi Perlawanan: Cinta, Dendam, dan Obsesi
Salah satu gagasan yang mencuri perhatian dalam diskusi disampaikan oleh Zukhrizal Irbhani, Ketua PC PMII Samarinda. Ia mengangkat pertanyaan mengenai hubungan antara kemandirian ekonomi dan keberanian melakukan perlawanan.
Apakah seseorang harus merdeka secara ekonomi terlebih dahulu sebelum mampu melawan ketidakadilan?
Dalam pandangannya, kebebasan ekonomi bukan satu-satunya prasyarat bagi lahirnya keberanian untuk memperjuangkan perubahan. Ia meyakini terdapat tiga energi yang dapat menggerakkan perlawanan, yakni cinta, dendam, dan obsesi.
Cinta dapat menjadi energi perjuangan ketika seseorang memiliki kepedulian terhadap masyarakat, lingkungan, dan nilai-nilai yang ingin dijaga. Dari cinta lahir keberanian untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga dan memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Dendam, dalam konteks gagasan tersebut, dapat dimaknai sebagai ingatan terhadap ketidakadilan dan pengalaman pahit yang melahirkan tekad untuk memperbaiki keadaan. Energi ini perlu diarahkan menjadi perjuangan yang konstruktif, bukan kebencian personal atau tindakan yang mengabaikan prinsip keadilan.
Sementara itu, obsesi menggambarkan keteguhan untuk mengejar tujuan perjuangan. Ia menjadi dorongan untuk terus bergerak, belajar, dan mencari jalan keluar meskipun perubahan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat.
