Diskusi Sumpah Pemuda DEMA-PTKIN Wilayah Kalimantan: Menguji Idealisme Pemuda di Hadapan Kekuasaan

Diskusi Sumpah Pemuda bertajuk “Refleksi Kepemudaan dalam Menakar Idealisme Pemuda: Antara Gagasan Perubahan dan Realitas Perjuangan” pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 19.00 WITA, bertempat di Smore Coffe.
Dalam posisi ini, pengetahuan berfungsi sebagai kompas moral sekaligus instrumen evaluasi agar kebijakan tidak semata-mata didasarkan pada kepentingan politik jangka pendek.
Ketiga, menolak menjadi tukang stempel kekuasaan. Keterlibatan dalam pemerintahan tidak boleh menghilangkan keberanian untuk mengoreksi kebijakan yang keliru. Sikap asal bapak senang (ABS), pembenaran tanpa evaluasi, serta kecenderungan mengabaikan persoalan masyarakat merupakan risiko yang perlu dihindari.
Dengan demikian, independensi intelektual tidak selalu berarti berada di luar kekuasaan. Independensi juga tercermin dari kemampuan seseorang untuk mempertahankan prinsip, menyampaikan kritik berdasarkan fakta, dan menolak membenarkan kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan publik.
Idealisme Harus Memiliki Tujuan yang Jelas
Pembahasan selanjutnya menyoroti hakikat idealisme dalam gerakan pemuda. Idealisme tidak cukup dimaknai sebagai sikap menolak keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip. Idealisme juga perlu memiliki tujuan yang jelas, arah perjuangan yang terukur, dan gambaran mengenai perubahan yang ingin diwujudkan.
Pertanyaan tentang idealisme, dengan demikian, harus dimulai dari tujuan yang hendak dicapai. Perubahan seperti apa yang diperjuangkan? Siapa yang akan merasakan manfaatnya? Serta bagaimana memastikan bahwa jalan perjuangan yang ditempuh tetap sejalan dengan nilai-nilai yang diyakini?
Pertanyaan tersebut menjadi penting agar idealisme tidak terjebak menjadi simbol, slogan, atau sekadar identitas gerakan. Idealisme perlu diterjemahkan menjadi keberpihakan, keberanian mengambil sikap, dan kerja nyata untuk menjawab persoalan masyarakat.
