Diskusi Sumpah Pemuda DEMA-PTKIN Wilayah Kalimantan: Menguji Idealisme Pemuda di Hadapan Kekuasaan

Diskusi Sumpah Pemuda bertajuk “Refleksi Kepemudaan dalam Menakar Idealisme Pemuda: Antara Gagasan Perubahan dan Realitas Perjuangan” pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 19.00 WITA, bertempat di Smore Coffe.
Pendekatan ini menempatkan diskusi bukan sekadar sebagai ruang penyampaian pendapat, melainkan sebagai proses menguji gagasan melalui pertentangan argumentasi, kritik, dan upaya menemukan pemahaman yang lebih utuh.
Dalam konteks kepemudaan, pendekatan tersebut menjadi penting karena idealisme tidak cukup hanya dipertahankan sebagai keyakinan personal. Idealisme perlu diuji melalui realitas sosial, konsekuensi dari setiap pilihan, serta kemampuan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat.
Dengan demikian, perbedaan pandangan tidak diposisikan sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari proses intelektual untuk menghasilkan pemikiran yang lebih matang.
Dua Persoalan Intelektual di Hadapan Kekuasaan
Salah satu pokok pembahasan yang mengemuka adalah posisi kaum intelektual ketika berhadapan dengan kekuasaan. Dalam diskusi tersebut, muncul refleksi mengenai dua kecenderungan yang kerap menjadi persoalan dalam hubungan antara intelektualitas, gerakan kritis, dan birokrasi.
Pertama, intelektual menara gading, yakni gambaran tentang kaum intelektual yang mengambil jarak dari pemerintah dan kekuasaan, tetapi gagasannya berisiko berhenti sebagai teori apabila tidak diikuti upaya untuk menerjemahkannya menjadi solusi konkret.
Kritik terhadap kekuasaan tetap diperlukan dalam kehidupan demokratis. Namun, kritik juga dituntut memiliki pijakan pengetahuan, relevansi terhadap persoalan masyarakat, dan kemungkinan untuk ditransformasikan menjadi perubahan nyata.
Kedua, intelektual pemuja kuasa, yakni gambaran tentang intelektual yang masuk ke dalam lingkaran birokrasi, tetapi berisiko kehilangan independensi dan daya kritisnya akibat terlalu dekat dengan kepentingan kekuasaan.
