PK Institute Akan Surati Pemerintah dan DPR RI Untuk Melakukan Evaluasi Amman Mineral Sumbawa

Foto : PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)
Kabarhaluan.com, Nusa Tenggara Barat – Direktur Pemerhati Kebijakan Institute (PK Institute) Al Rasiq Ifan menyampaikan, Kurang lebih dua puluh lima tahun sudah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) beroperasi mengeruk isi alam Nusa Tenggara Barat. Diatas tanah seluas 786,31 Ha bukaan tambang, Pada tahun 2024 Pihak tambang terbesar kedua ini mengklaim cetak rekor tertinggi produksi tembaga yakni sebesar 374 ton dan emas sebesar 751.000 troy ons dan tahun ini 2025 ditargetkan memproduksi konsetrat sebesar 430.000 ton dengan produksi kandungan tembaga dan emas masing-masing sebesar 228 juta pon dan 90.000 try ons.
“Namun ditengah keberhasilan ini, mimipi kesejahteraan bagi warga sekitar benar-benar hanya sebuah mimpi, perubahan sosial serta perubahan ekologi sangat nyata terjadi, konflik agraria yang berdampak pada menyempitnya ruang hidup bagi petani dan nelayan menjadi momok yang benar-benar nyata” Kata Direktur Utama Pemerhati Kebijakan, (PK Institute) Alrasiq Ifan di Bima, 16/4/25.
Lanjutnya, kehidupan warga pun jauh dari sejahtera. Jarak tambang dari Desa Tongo-Sejorong, sekitar empat kilometer. Ini desa yang dilintasi pipa saluran limbah ke Teluk Senunu. Desa ini merupakan paling dekat tambang, terdiri dari Dusun Tongo, Dusun Sejorong dan Dusun Temelang, ada sekitar 700 keluarga. Sebelum ada AMNT, warga bisa hidup cukup dengan memanfaatkan nira enau dan menjual bambu dari hutan.
“Namun sungguh miris, sekarang ruang hidup masyarakat sekitar makin sempit, kerusakan alam benar-benar berdampak pada kehidupan petani dan nelayan sekitar Tambang terbesar kedua di Indonesia itu”, terangnya.
