PK Institute: “Kami Datang Berdialog, Bukan Berperang” – Pertamina Bima Bungkam, Aksi Massa Akan Digelar Kamis

Dalam kunjungannya ke kantor Pertamina pada Senin (21/7), perwakilan PK Institute mengaku hanya disambut oleh aparat keamanan, tanpa satupun perwakilan resmi dari Pertamina yang menemui mereka.
Meski indikasi pencemaran telah disebutkan secara terbuka oleh DLH, namun dokumen hasil laboratorium lengkap tak pernah dipublikasikan kepada publik. PK Institute menilai hal ini sebagai bentuk pengabaian terhadap hak atas informasi lingkungan, sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009.
“Pertamina sebagai BUMN seharusnya menjunjung keterbukaan. Tapi yang kami lihat adalah ketertutupan dan penghindaran dari tanggung jawab,” tambahnya.
Warga Keluhkan Air Berubah Bau dan Warna
Sejumlah warga di sekitar kawasan terminal mengaku telah merasakan dampak sejak awal 2024. Mereka melaporkan air sumur yang berubah warna, berbau, dan tidak layak konsumsi.
Kondisi tersebut memperkuat desakan PK Institute agar Pertamina segera mempublikasikan hasil lab, menjelaskan sumber pencemaran, serta menyusun langkah tanggung jawab dan pemulihan lingkungan secara terbuka.
Masa aksi Akan Laporkan ke Lembaga Negara
Jika Pertamina tetap menutup ruang dialog dan enggan mempublikasikan hasil lab, PK Institute berencana membawa kasus ini ke Komisi Informasi, DPR RI Kom. 12, Ombudsman RI, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Langkah hukum juga sedang dipertimbangkan.
