Fransisca Debi Pimpin Dewi Pertiwi Samarinda, Soroti Perempuan dan Anak

0

Menurut Fransisca, penanganan kekerasan tidak cukup dilakukan setelah kasus terjadi. Pencegahan dan peningkatan pemahaman masyarakat juga diperlukan agar perempuan maupun anak mengetahui hak serta jalur pertolongan yang tersedia.

Ia menilai masih ada korban yang memilih diam karena takut, malu, bergantung secara ekonomi kepada pelaku, atau tidak mengetahui bahwa pengalaman yang dialaminya merupakan bentuk kekerasan.

“Perempuan yang berdaya bukan berarti perempuan yang harus selalu kuat sendirian. Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang tahu haknya, tahu batasnya, tahu pilihan yang dimilikinya, dan tahu ke mana harus meminta bantuan ketika membutuhkan,” kata Fransisca.

Latar belakang Fransisca sebagai psikolog menjadi salah satu bekal dalam menjalankan agenda tersebut. Pada Mei 2026, ia pernah terlibat dalam diskusi mengenai kesehatan mental perempuan yang digelar DPD PSI Samarinda dengan tema ‘Perempuan Bekerja, Perempuan Bertahan’.

Dari pengalaman itu, Fransisca melihat isu kesehatan mental perempuan tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial dan ekonomi. Karena itu, ia ingin Dewi Pertiwi menjadi ruang bagi perempuan untuk memperoleh informasi, dukungan, kesempatan belajar dan membangun jejaring.

Selain perlindungan perempuan dan anak, Dewi Pertiwi Samarinda akan mengadaptasi program prioritas dari tingkat nasional. Salah satunya Gerakan Perempuan Berdokumen yang diarahkan untuk memperkuat akses perempuan terhadap dokumen administrasi dan layanan dasar.

Pelaksanaan program tersebut, kata Fransisca, akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Samarinda. Program pemberdayaan dan peningkatan kapasitas perempuan, edukasi serta kesehatan mental juga akan menjadi bagian dari agenda organisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *