DARI PELABUHAN KE PARLEMEN: KISAH SYAFRUDDIN MENAKLUKKAN KERASNYA HIDUP DI TANAH RANTAU

SAMARINDA – Garis nasib seseorang tidak ditentukan dari mana ia memulai, melainkan dari seberapa kuat ia bertahan dalam prosesnya. Inilah cerminan hidup Syafruddin, atau yang akrab disapa Bang Udin. Pria yang dulunya bergelut dengan kerasnya debu pelabuhan, kini resmi menyuarakan aspirasi rakyat Kalimantan Timur di kursi DPR RI.
Mengarungi Samudra dengan Modal Tekad
Lahir di kaki Gunung Parewa, tepatnya di Desa Sakuru, Bima, Nusa Tenggara Barat, Syafruddin kecil ditempa oleh kemandirian. Dididik langsung oleh sang nenek di lingkungan yang keras, ia tumbuh menjadi pribadi yang berani.
Keputusannya untuk merantau ke Kalimantan adalah titik balik. Tanpa bekal materi, ia menumpang kapal barang bermuatan bawang merah. Di Banjarmasin, ia memulai hidup sebagai buruh kasar di pelabuhan demi menyambung hidup.
Menyatu dengan Lumpur hingga Menuju Kampus
Perjalanan hidup membawanya berpindah ke Muara Badak, Kutai Kartanegara. Di sana, Bang Udin bekerja sebagai penjaga tambak, bergelut dengan lumpur dan terik matahari setiap hari. Namun, ia merasa fisiknya bukan satu-satunya modal yang ia miliki.
Setibanya di Samarinda, sambil bekerja sebagai buruh pelabuhan peti kemas di Palaran, ia membulatkan tekad untuk menempuh pendidikan formal di Universitas Mulawarman. Di sinilah cakrawala berpikirnya terbuka lebar.
Tempaan Organisasi dan Jalan Politik
Aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), naluri kepemimpinan Syafruddin mulai terasah. Ia pernah dipercaya memimpin sebagai Ketua Cabang PMII Samarinda, yang menjadi jembatannya masuk ke dunia politik praktis melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Perjalanan politiknya pun tidak instan. Ia sempat merasakan pahitnya kegagalan pada Pemilu 2009. Namun, dengan semangat pantang menyerah, ia berhasil bangkit:
